Olahraga

Petinju Tak Terkalahkan Adam Azim Rebut Sabuk IBO, Perpanjang Rekor 13-0

Petinju tak terkalahkan Adam Azim merebut sabuk IBO kelas ringan super pasca menghentikan Sergey Lipinets di sembilan ronde. Kejayaan itu menunda rekor tak terkalahkan Adam Azim menjadi 13-0 (10 KO).

Adam Azim, 22 tahun juga mantan juara Eropa, berulang kali mendaratkan uppercut kanan yang keras ke arah lawannya yang dimaksud tangguh, juga rangkaian pukulan beruntun lainnya memaksa wasit Steve Gray untuk turun tangan setelahnya 33 detik pada ronde kesembilan pada Wembley Arena. Dalam laga ke-13 Azim ini, Lipinets yang tersebut berusia 35 tahun – mantan juara dunia kelas welter dan juga juga pribadi veteran yang digunakan pernah berjuang melawan Mikey Garcia – diidentifikasi sebagai lawan yang digunakan dibutuhkan untuk menguji petarung yang dimaksud semakin dikenal sebagai salah satu petarung yang digunakan paling menjanjikan di dalam Inggris.

Lipinets mendaratkan sebuah hook kiri pada ronde pertama, namun Azim yang tenang bertarung dengan kedewasaan yang mengagumkan kemudian masih tenang di tempat balik kecepatan jab-nya, sebelum secara bertahap merespon dengan pukulan straight kanan lalu kiri ke arah penjagaan tinggi Lipinets. Pada ronde kedua, ia menempatkan waktu yang dimaksud tepat untuk uppercut kanannya yang dimaksud pertama, serta pasca itu, kecepatan kakinya membawanya meninggalkan dari jarak serang.

Sebuah uppercut kanan lainnya menyusul serta dilengkapi dengan sebuah tinju balasan dari tangan kiri ketika Lipinets melontarkan sebuah jab. Pukulan kiri beruntun ke arah tubuh kemudian memberi tanda lebih besar lanjut tentang kesempatan dan juga dominasinya yang dimaksud semakin meningkat.

Sebuah kombinasi pukulan kanan-kiri menyengat Lipinets pada awal ronde ketiga, dimana ia mencoba – juga gagal – untuk merespon. Sebuah uppercut kanan lainnya kemudian menimbulkan kaki petinju Kazakhstan itu goyah, juga pasca serangan lain ke arah tubuh, sebuah pukulan balasan dari kiri – yang dilontarkan ketika Lipinets mendaratkan pukulan kirinya – menjatuhkannya.

Saat Lipinets terjatuh, Barry McGuigan, manajer Azim, lalu Amir Khan, temannya, berdiri di area sisi ring serta meneriakkan instruksi. Jika kemungkinan besar pertunjukan tinju terbaiknya adalah salah satu simbol dari potensinya yang digunakan besar, pemandangan dua pensiunan petinju terbaik Inggris yang tersebut menyemangati dirinya adalah hal lain; bahwa ia tetap saja tenang untuk tidak ada memaksakan penghentian pertandingan, yang tersebut kemudian menjadi alasan untuk lebih tinggi menyemangati dirinya.

Sebuah uppercut kanan juga straight kanan menyusul pada ronde keempat, pada waktu kaki Azim dengan luar biasa kembali membawanya ke luar jangkauan Lipinets. Ia lalu melontarkan sebuah jab keras, namun dikurangi satu poin oleh Gray untuk sebuah pukulan rendah.

Terlepas dari ambisi serta ketangguhan Lipinets, tanda kemundurannya terlihat ketika ia kehilangan keseimbangan sejenak, juga setelahnya itu, Azim tampil dengan gaya bertarung satu dimensi serta kaki datar. Kedua mata Lipinets terlihat membengkak, namun setelahnya ronde keenam yang berat sebelah, ia tetap saja berdiri tegak – bukan seperti yang mana diprediksi Azim sebelumnya.

Mungkin yang mana paling menggembirakan bagi ahli Azim, Shane McGuigan, adalah bagaimana petarungnya yang dimaksud paling menarik itu berulang kali unggul – serta kemungkinan besar untuk pertama kalinya – di area sisi dalam. Pukulan rendah lainnya kemudian menyebabkan pengurangan satu poin pada ronde ketujuh, serta Azim merespons dengan bertarung dengan lebih besar gencar.

Sebuah pukulan straight kanan pada awal ronde kedelapan disertai oleh uppercut kanan lainnya, pukulan kanan lainnya ke arah tubuh, dan juga tiga pukulan kanan beruntun ke arah dalam. Wajah Lipinets semakin terpukul juga berlumuran darah, dimana dua uppercut kanan, sebuah hook kanan juga uppercut kanan lainnya memunculkan pertanyaan apakah ia harus melanjutkan laga.

Gray mengunjungi pojok ring Lipinets untuk berbicara pada akhir ronde kedelapan, yang dimaksud membuatnya semakin tidak ada mengejutkan pada ronde kesembilan, pada waktu wasit menghentikan laga. Bahasa tubuh Lipinets menunjukkan bahwa ia adalah orang petarung yang tersebut sudah dikalahkan, dan juga setelahnya ia berikrar pada ronde kesembilan, sebuah uppercut kanan beruntun juga sebuah uppercut lainnya yang dimaksud tambahan eksplosif dan juga memproduksi Gray tidaklah memiliki berbagai pilihan lain selain menghentikannya.

Related Articles

Back to top button