Otomotif

Mobil Listrik Berkecepatan Melebihi Supercar, Pengemudi Harus Punya SIM Khusus

WAHYU BUDI SANTOSO – Pada awal produksi mobil listrik khususnya model Tesla, salah satu USP atau Unique Selling Point mobil listrik adalah mampu berakselerasi dengan cepat. Misalnya hanya Tesla Roadster yang mampu berakselerasi 0-100km/jam belaka di waktu 3,7 detik

Seperti dilansir dari MCN. Angka yang dimaksud menempatkan Tesla Roadster sejajar dengan supercar lainnya seperti Jaguar X7 220, Porsche 911 GT2 993 1995, Ferrari F50, bahkan Mercedes Benz CLK GTR yang digunakan menggunakan mesin V12 6900cc. Meski motor listrik ini terlihat sederhana, namun sangat bertenaga.

Salah satu kelebihan motor listrik adalah dapat menciptakan torsi yang dimaksud sangat tinggi pada putaran mesin rendah. Misalnya cuma GWM Ora 07 yang mana mampu menghasilkan kembali torsi 340Nm hanya saja dari satu motor listrik.

Artinya, segera setelahnya Anda menekan pedal, 340Nm yang disebutkan sudah ada tersedia lalu dapat digunakan. Untuk mesin pembakaran internal yang mana disedot secara normal, hitungan ini kemungkinan besar tersedia pada 4000 RPM. Setelah Anda menekan pedal, Anda kemungkinan besar memerlukan waktu 2 detik untuk mencapai 4000 RPM.

Untuk mesin turbo, bilangan bulat ini kemungkinan besar tersedia antara 1500-2500 RPM. Singkatnya, mesin pembakaran internal membutuhkan waktu untuk berakselerasi. Fitur ini dijadikan USP untuk memasarkan mobil listrik, dengan menghasilkan kembali akselerasi yang tersebut sebanding dengan mobil sport atau supercar

Keadaan ini menyebabkan para pengemudi yang baru mengendarai mobil listrik menjadi kehilangan kendali dengan kemampuan akselerasi mobil listrik yang dimaksud baru merekan beli dengan harga jual yang tersebut berjauhan lebih tinggi diskon dibandingkan supercar atau mobil sport.

Semakin berat kendaraan maka semakin besar jarak yang mana diperlukan untuk berhenti. Keadaan ini terjadi ketika mobil listrik dikendarai dengan kecepatan tinggi maka akan menghasilkan kembali kesempatan yang tersebut tinggi

Momentum yang tersebut dihasilkan akan menyebabkan mobil listrik sulit berhenti kemudian sulit dikendalikan pada waktu melintasi tikungan. Hal ini akan menyebabkan EV terasa seperti terlempar meninggalkan jalur.

Menariknya, kebanyakan mobil sport tidaklah mengalami kesulitan ini, sebab mobil sport menggunakan mesin bensin dan juga bensin yang digunakan sangat jauh tambahan ringan

Masalah bobot yang dimaksud kedua adalah ban mobil listrik akan cepat aus. Sebagian besar pengguna mobil listrik pada Amerika mengeluh betapa seringnya merekan harus mengganti ban, terkadang setiap 10.000 mil atau 16.000 km.

Ban yang aus akan mempengaruhi kualitas berkendara ketika hujan. Mengendarai mobil listrik di dalam berada dalam hujan juga mempunyai tantangan tersendiri. Demi mengendalikan seluruh torsi yang tersebut dihasilkan, sebagian besar pabrikan cenderung menggunakan ban lebar pada mobil listrik.

Ban lebar sebenarnya lebih tinggi mudah mengalami aquaplaning dibandingkan ban tipis. Secara umum, terdapat 2 faktor desain kendaraan yang mempengaruhi aspek aquaplaning

Related Articles

Back to top button