Akhir Tahun 2024, Inflasi Ibukota Indonesia Lebih Rendah Dibanding Nasional

JAKARTA – Akhir tahun 2024, DKI Jakarta mencatatkan pemuaian yang digunakan lebih besar rendah terhadap nasional lalu terkendali. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta, Arlyana Abubakar mengatakan, naiknya harga pada pusat sektor ekonomi Indonesia tercatat 0,37%.
Sekalipun tambahan tinggi dari pemuaian bulan sebelumnya sebesar 0,29. “Secara keseluruhan kenaikan harga Ibukota setahun mencapai 1,48 persen. Lebih rendah dari naiknya harga nasional 1,57 persen,” kata Arlyana di siaran persnya, Kamis (2/1/2025).
Secara rinci, Arlyana menuturkan kenaikan kenaikan harga disebabkan beberapa kelompok seperti makanan, minuman, dan juga tembakau; perawatan pribadi serta jasa lainnya; dan juga kesehatan. Adapun meningkatnya kenaikan harga makanan di area DKI Jakarta sebesar 1,33%, lantaran kenaikan nilai tukar cabai merah, telur ayam ras, beras, serta minyak goreng.
“Ini oleh sebab itu terbatasnya pasokan sebagai dampak dari tingginya curah hujan di dalam berada dalam meningkatnya permintaan jelang HBKN Nataru,” jelas Arlyana.
Kondisi demikian diperburuk dengan nilai tukar telur ayam ras yang dimaksud juga mengalami kenaikan sejalan dengan terbatasnya pasokan yang tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang memengaruhi produktivitas ayam petelur serta masuknya periode akhir beberapa produsen.
Sementara itu kenaikan harga jual minyak goreng dipengaruhi oleh berlanjutnya kenaikan harga jual Crude Palm Oil (CPO) global sehingga berdampak pada kenaikan harga jual domestik. Meski baik, Arlyana enggan terlena, pihak masih bersinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI DKI Jakarta agar pemuaian masih terkendali dan juga melakukan beberapa langkah kongkrit.
“Ke depan, sinergi antara otoritas Daerah dengan Bank Indonesia juga seluruh stakeholder terkait yang mana tergabung pada TPID DKI DKI Jakarta akan terus diperkuat untuk menjamin strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi kemudian Komunikasi Efektif) dapat berjalan baik kemudian efektif, utamanya melalui Inisiatif Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP),” tuturnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, kenaikan harga Ibukota Indonesia pada 2025 diharapkan dapat tetap memperlihatkan dijaga pada sasaran 2,5±1 persen.






